Menjadi Loper Digital di Belantara Informasi
Oleh: Kawan Nazar
BanaspatiNetSeven.com ][ Di era internet dan media sosial, netizen memainkan tiga fungsi sekaligus pembuat, penyebar, dan penikmat konten. Namun, mayoritas berada pada dua posisi terakhir. Menjadi pembuat konten butuh kemampuan khusus. Menulis, merekam, mengolah data, atau membangun narasi yang tidak dimiliki semua orang. Sementara penikmat informasi relatif pasif. Banyak orang akhirnya memilih posisi tengah: menjadi penyebar informasi.
Di sinilah muncul fenomena menarik: loper digital.
Ada alasan sosial mengapa fungsi ini berkembang pesat. Tidak semua orang bisa memproduksi konten, tetapi hampir semua orang punya kesempatan menyebarkannya. Lewat tombol share, forward, retweet, atau repost, siapa pun bisa hadir dalam percakapan publik. Aktivitas ini bahkan menjadi sarana membangun eksistensi: menjadi yang tercepat membagikan berita, menyebarkan hasil investigasi, hingga membangun identitas digital lewat gagasan orang lain.
Lalu lintas informasi pun dibanjiri oleh aksi para loper digital ini. Tangkapan layar, potongan video, hingga artikel bertengger berulang kali di grup WhatsApp, Telegram, hingga lini masa Facebook dan X. Namun, berbeda dengan loper koran konvensional yang netral, loper digital membawa preferensi, bias emosional, hingga keberpihakan ideologis. Bahkan, sebagian bekerja profesional demi kepentingan politik maupun bisnis tertentu, seperti buzzer.
Menyebar informasi tak lagi sekadar memindahkan data, melainkan bagian dari pertarungan pengaruh.
Sisi Terang: Mengawal Kebijakan dan Suara Rakyat
Di satu sisi, antusiasme loper digital mendorong demokratisasi informasi. Di tengah media massa yang kerap tersandra kepentingan pemilik modal, penyebar informasi independen hadir sebagai saluran pembanding (counter-hegemony).
Ketika ada kebijakan publik yang merugikan rakyat, para loper digital bergerak memviralkannya. Informasi yang tadinya terisolasi dengan cepat memicu gelombang tekanan publik (public pressure). Dalam konteks ini, loper digital bertransformasi menjadi pengawal kepentingan rakyat yang efektif.
Sisi Gelap: Disinformasi dan Pembunuhan Karakter
Namun, dominasi fungsi ini menyimpan kerawanan fatal. Ketika dorongan menyebar informasi didominasi oleh
hasrat eksistensi, kepuasan menjadi yang "paling tahu", atau dorongan fanatisme, prinsip verifikasi pun terabaikan.
Loper digital rawan membagikan konten tanpa memeriksa kebenarannya—celah yang dimanfaatkan produsen hoaks dan buzzer. Narasi yang dipotong dan dipelintir disusupkan ke rantai distribusi. Kerusakan paling destruktif adalah pembunuhan karakter (character assassination), di mana reputasi seseorang bisa dihancurkan secara masif oleh ribuan loper digital yang tak sadar telah dimanipulasi.
Tanggung Jawab Etis Jempol Kita
Kecepatan jempol menekan share kini melampaui nalar untuk memverifikasi. Di era di mana setiap orang adalah distributor informasi, ada beban etis yang dipertaruhkan: apakah kita sedang menyebarkan pengetahuannya atau justru menjadi rantai pembodohan?
Di ruang digital, satu share bukan sekadar refleks jempol, melainkan pilihan moral dan politik.
#loperdigital
#loperkoran
#belantarainformasi
#medsos
#konten
AGF